Wisata

Kenapa tidak ada Parasut di Pesawat Komersil? Ternyata ini Alasannya

Medan.top – Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa tidak ada parasut yang disediakan bagi para penumpang di pesawat komersil? Ternyata ada hal penting yang mendasarinya.

Seperti yang kita ketahui, peranti keamanan di pesawat komersil hanyalah sabuk pengaman, masker oksigen, dan pelampung. Tidak ada parasut.

Namun, tidak demikian halnya dengan pesawat militer, seperti jet tempur dan Hercules. Lalu, perlukah parasut di pesawat komersil? Jawabannya, tidak.

Ada sejumlah alasan penting yang mendasari tidak adanya parasut di pesawat komersil. Simak penjelasannya berikut ini seperti dikutip dari Cokelat.co.

1. Tidak memiliki latihan dasar

Berbeda dengan adegan-adegan terjun payung yang sering kita saksikan dalam film-film lansiran Hollywood, terjun payung tidak mudah untuk dilakukan.

Untuk dapat melakukannya, seseorang harus menempuh pendidikan serta pelatihan panjang yang rumit. Bahkan, terjun payung tandem yang sangat mendasar dan terlihat mudah sekalipun memerlukan latihan yang cukup lama.

Belum lagi, terjun payung yang dilakukan sebagai hiburan akan sangat berbeda dengan terjun payung di waktu darurat dan genting, karena kepanikan yang terjadi. Maka dari itu, tidak ada parasut yang disediakan di pesawat komersil

2. Tidak didesain untuk terjun payung

Alasan berikutnya adalah bentuk pesawat komersil itu sendiri yang tidak didesain untuk dilakukannya terjun payung dengan parasut. Jika dipasakan akan sangat berbahaya.

Pesawat yang khusus digunakan untuk terjun payung biasanya berukuran kecil, tidak sebesar pesawat komersil. Berbeda dengan pesawat militer seperti Hercules.

Pesawat pengangkut militer seperti Hercules memungkinkan untuk dilakukannya terjun payung. Karena pesawat ini memiliki pintu belakang yang dapat dibuka lebar.

Nah, sementara pesawat komersil hanya memiliki pintu di bagian samping, tidak di bagian buritannya. Jika penerjunan dipaksakan melalui pintu itu, maka penerjun berisiko membentur bagian tubuh, sayap, dan ekor pesawat.

3. Terbang tinggi dan cepat

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, untuk dapat melakukan penerjunan, dibutuhkan pelatihan yang tekun dan tidak mudah. Ketinggian juga harus diperhitungkan.

Pada umumnya, ketinggian rata-rata untuk melakukan terjun payung (sky diving) adalah 15.000 hingga 16.000 kaki atau 4,8 kilometer. Sementara pesawat komersil terbang lebih tinggi.

Pesawat penumpang rata-rata terbang di ketinggian 35.000 kaki atau 10,6 kilometer dari permukaan tanah. Ketinggian ini dapat menimbulkan masalah.

Di ketinggian yang ekstrim ini, udara sangat tipis dan suhunya sangat dingin. Jika penumpang melompat di ketinggian ini, maka mereka harus mengenakan peralatan ketinggian (high altitude equipment/HALO), yang berupa:

  • Tabung oksigen
  • Regulator
  • Masker
  • Altimeter
  • Helm balistik
  • Pakaian penerbangan (flight suit)

Itu dari ketinggian, belum kecepatan. Pesawat komersil rata-rata terbang dengan kecepatan tinggi yang tidak memungkinkan untuk dilakukannya penerjunan.

Pesawat seperti Boeing 737 rata-rata bergerak di kecepatan 965 kilometer per jam. Bahkan pesawat yang menempuh perjalanan lebih jauh akan terbang lebih tinggi lagi, yakni 11,8 kilometer.

Melompat dari ketinggian dan keepatan itu akan sangat berbahaya dan tidak memungkinkan bagi penerjun karena dapat berakibat fatal.

4. Mahal dan besar

Sebuah parasut akan terlalu besar dan berat untuk dapat diletakkan di bawah bangku penumpang. Dan hal ini bertentangan dengan kebijakan maskapai yang tak mengizinkan barang-barang berat untuk diletakkan di dalam kabin.

Nah, jika pesawat melengkapi seluruh penumpang dengan parasut, maka akan ada beban tambahan yang harus ditanggung oleh pesawat, yakni sekitar 3,2 ton.

Itu belum termasuk perlengkapan HALO yang juga harus disediakan bagi para penumpang. Maka beban yang ditanggung pesawat akan lebih besar lagi.

Berikutnya, harga sebuah parasut sangatlah mahal, sekitar Rp70-100 juta. Pihak maskapai tidak akan mau merogoh kocek untuk membelinya.

Maka, satu-satunya cara adalah dengan membebankannya ke penumpang. Hal itu berakibat pada semakin mahalnya harga tiket.

5. Kecelakaan tidak terjadi di ketinggian jelajah

Berdasarkan statistik, kecelakaan pesawat terbang komersil biasanya terjadi disaat pesawat melakukan takeoff atau mendarat.

Bahkan, menurut data penerbangan, dari tahun 2003 hingga 2012 hanya 9% dari seluruh kecelakaan fatal terjadi disaat pesawat mengudara di ketinggian jelajah.

Lebih lanjut, satu dari sedikit kecelakaan di ketinggian jelajah itu terjadi akibat badai. Sialnya, dalam keadaan cuaca buruk ini, penggunaan parasut akan sia-sia belaka.

Berikutnya, parasut juga tidak akan berguna jika pesawat mengalami kecelakaan di saat mendarat atau takeoff. Maka dari itu, maskapai penerbangan tidak menyediakan parasut di pesawat komersil, meski awalnya terdengar seperti ide yang bagus dan aman bagi penumpang. (UNBF/AW)

Artikel ini telah terbit di Cokelat.co, untuk membaca artikel aslinya klik di sini

Berikan Komentar:

Tags

Berita Terkait:

Back to top button
Close