MedanTop

Ini Cerita 3 Peserta Termuda Khitan Berkah di Rumah Kolaborasi

Medan.top – Hari kedua gelaran Khitan Berkah di Sekretariat Bersama (Sekber) Rumah Kolaborasi Jalan Cut Mutia Medan, Rabu (26/8/2020) pagi, sekitar 20 orang anak didampingi orangtua telah datang menunggu giliran dipanggil untuk khitan.

Tampak tiga peserta yang terbilang muda dari peserta-peserta lain. Mereka adalah Azmi Farras Tumanggor, Fathir dan Evi Atala. Ketiganya masih berusia 8 tahun.

Azmi Farras yang hadir dengan mamakai baju koko berwarna coklat, cukup gagah berani. Tidak terdengar tangisan dari bocah warga Medan Denai ini saat dikhitan. Usai di khitan, Azmi pun tak tampak kesakitan.

“Padahal yang lain lebih tua, tapi dia tidak kesakitan,” ucap ibunya, Mawar Sinaga.

Dituturkan sang ibu, putra kedua Arifin Tumanggor ini, mengajukan diri saat diajak ikut khitan massal. Padahal abangnya enggan untuk di khitan.

“Dia punya abang Kelas 5 SD, tapi belum mau di khitan. Dia malah mengajukan diri,” kata ibunya.

Azmi pun mengaku tidak kesakitan saat ditanya tentang khitannya. Dengan tenang dia menggeleng saat ditanyai orangtua peserta khitan lainnya.

Sayangnya, semangat Azmi belum dimiliki Fathir. Saat menunggu giliran, Fathir yang ditemani ibunya hanya diam dan menurut. Namun saat memasuki ruang khitan, Fathir mulai cemas dan menyatakan keenggannya ke ibunya. Panitia khitan pun membantu sang ibu membujuk putranya, hingga mau ke tempat tidur khitan.

Namun usai dibius, ketakutan Fathir kembali lagi, sehingga menolak dikhitan.

“Jangan dipaksa bu. Tunggu tenang dulu,” ucap dokter Ridho yang mengkhitannya. Lama dibujuk, Fathir tetap keukuh tidak mau di khitan. Dan akhirnya, Fathir gagal khitan.

Lain lagi dengan Evi Atala. Putra dari Koordinator Cabang Relawan Gerakan Medan Berkah (GMB) Medan Maimun, Hendri, sebelumnya dijadwalkan khitan Selasa (25/8/2020) lalu.

Namun, Evi lari ketakutan dan gagal khitan. Hari ini, Evi hadir dengan berani. Dengan menggunakan kaos berwarna kuning, Evi Atala berubah lebih percaya diri. Tahapan demi tahapan untuk khitan diikuti Evi ditemani handphonenya.

Begitu juga saat dikhitan dokter. Menahan sakit, Evi membaca ayat-ayat Al-Quran pendek. Tak ada niatnya untuk berlari lagi. Usut punya usut, ternyata Evi dijanjikan mendapatkan sepeda motor trail oleh ayahnya, jika mau khitan.

“Dia minta kereta trail, kita berikan asal mau khitan. Makanya mau,” jelas Hendri.

Menurut Hendri, dia meminta putra sulungnya untuk khitan, demi mensukseskan program yang digelar penggagas #KolaborasiMedanBerkah, Muhammad Bobby Afif Nasution dan pasangannya untuk melaju ke kursi Walikota Medan, Aulia Rachman.

“Saya dan istri sepakat Evi ikut khitan massal ini. Apalagi di masa pandemi Covid-19 ini, kami berani ikutsertakan Evi karena yakin dengan protokol kesehatan yang diterapkan di sini,” ungkapnya.

Harapannya, Bobby Nasution dan Aulia Rachman tetap melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti ini secara berkelanjutan, saat nanti terpilih menjadi Walikota dan Wakil Walikota Medan. Agar bisa terus ada program yang membantu warga yang kurang mampu.

Penanggungjawab Khitan Berkah, Faisal Arbi menjelaskan, dari sisi medis, sebenarnya tidak ada usia minimal dan maksimal yang ditetapkan untuk berkhitan. Melihat dari ukuran kelaminnya, kalau sudah bisa dilakukan, usia berapapun itu tidak masalah, lebih cepat lebih bagus untuk menjaga kebersihan.

“Hanya efek traumatis terhadap rasa sakit itu yang harus dihindari. Makanya anak-anak di Indonesia membuat khitan di usia 8 – 12 tahun,” pungkasnya.

Khitan Berkah Akan Dilakukan Terus Secara Berkala

Bakal calon Walikota Medan, Muhammad Bobby Afif Nasution mengungkapkan kegiatan Khitan Berkah dilakukan untuk terus memberikan hal baik kepada masyarakat dan akan terus dilakukan secara berkala kedepannya.

“Sehingga akan semakin banyak yang dapat merasakan manfaatnya,” tutur Wakil Ketua BPP HIPMI ini.

Dia berharap kegiatan ini dapat membantu masyarakat di Kota Medan yang mungkin belum ada waktu untuk mengkhitan anak mereka, atau bagi masyarakat kurang mampu apalagi ditengah Pandemi Covid-19 ini.

“Mungkin ada juga yang mampu, namun karena anaknya merasa takut dikhitan sendiri akhirnya didatangkan kesini,” pungkasnya.

Editor : Prawira Setiabudi

Berikan Komentar:

Tags

Berita Terkait:

Back to top button
Close