Lifestyle

Yartsa Gunbu, Parasit Termahal di Dunia yang Harganya Melebihi Emas

Medan.top – Di dataran tinggi Tibet terdapat Yartsa Gunbu, parasit termahal di dunia yang harganya tiga kali lipat lebih mahal jika dibandingkan dengan emas.

Dikutip dari laman Oddity Central, Jumat (22/5/2020), harga parasit dari keluarga jamur-jamuran (fungus) ini dapat mencapai US$50.000 (sekitar Rp742 juta) per setengah kilo.

Yartsa Gunbu merupakan parasit yang kerap menginfeksi ulat sebelum mereka menjadi kupu-kupu. Mahluk ini merupakan kerabat dekat parasit tropis yang juga menginfeksi semut dan mengubah mereka menjadi zombi.

Yartsa Gunbu yang disebut sebagai parasit termahal di dunia ini memiliki nama latin Ophiocordyceps sinensis. Parasit ini mencari korbannya ketika mereka sedang menyantap akar tanaman di dalam tanah. Larva ulat ini diketahui sangat lemah di musim panas, Ketika mereka mengalami pergantian kulit. Hal itulah yang membuat ulat-ulat ini mudah diinfeksi.

Proses terinfeksinya ulat ini tergolong menyeramkan. Setelah menginfeksi, Yartsa Gunbu perlahan tumbuh dan memakan tubuh inangnya dari dalam selama musim semi dan musim dingin. Dan Ketika salju mulai mencair, parasit ini mendorong ulat yang menjadi inangnya timbul ke permukaan tanah dan bertumbuh dalam keadaan sekarat.

Nah, ketika mencapai fase inilah Yartsa Gunbu dapat dipanen oleh para penduduk desa dan dijual dengan harga yang wajar. Namun, parasit ini menjadi semakin mahal karena melalui serangkaian tengkulak dan membuat harganya meroket menjadi tiga kali lebih mahal dari emas ketika sampai di tangan pembelinya.

‘Rumput Musim Panas, Ulat Musim Dingin’

Nama Yartsa Gunbu memiliki arti ‘rumput di musim panas, ulat di musim dingin’. Sebuah deskripsi yang menggambarkan siklus kehidupan jamur ini.

Spesimen yang dihargai paling mahal adalah ulat yang mengandung spora terbanyak. Parasit ini menyembul keluar dari kepala dan tubuh inangnya.

Yartsa Gunbu menyembul ke permukaan tanah.

Namun, memanennya secara utuh merupakan proses yang sangat menyulitkan. Untuk menemukannya saja tidak mudah, karena ia menyaru dengan rerumputan di dataran tinggi Tibet ini. Mencabut Yartsa Gunbu dari tanah tanpa meruksaknya lebih menantang lagi, sebab tanaman ini sangat ringkih dan mudah rusak.

Seperti yang dapat kita bayangkan, untuk mendapatkan uang di wilayah pegunungan kering ini tidaklah mudah. Maka daripada itu para penduduk menjadikan Yartsa Gunbu sebagai sumber penghasilan utama mereka. Di Bhutan contohnya, perdagangan jamur merupakan bagian dari produk domestik.

Meski para penduduk hanya mendapatkan uang ratusan dolar per setengah kilo dari menjual Yartsa Gunbu, namun jumlah itu dapat menambah kebutuhan hidup mereka selama setahun.

Popular di Kalangan Orang-orang Kaya China

Setelah melewati berbagai tengkulak dan tiba di Hong Kong dan China daratan, harga Yartsa Gunbu meroket dan resmi menjadi parasit termahal di dunia. Parasit ini telah lama digemari oleh kalangan borjuis China dan dianggap sebagai obat yang sangat berkhasiat, mulai dari dapat menyembuhkan segala penyakit hingga menjadi obat kuat bagi pria.

Ketenaran Yartsa Gunbu semakin tak terbendung ketika pada 1993 sejumlah atlet China sukses memecahkan berbagai rekor dunia di ajang olahraga. Dan pelatih para atlet tersebut menyebut bahwa anak asuhnya berprestasi karena mengonsumsi Yartsa Gunbu yang mendapat julukan ‘Viagra Himalaya’ ini.

Satu dekade kemudian mulai beredar rumor yang menyebutkan bahwa parasit ini dapat melindungi orang dari infeksi SARS, meski tidak dapat dibuktikan secara medis.

Berdasarkan laporan The Atlantic, pasar global Yartsa Gunbu berkisar antara US$5-11 miliar (sekitar Rp74-163 triliun). Bahkan spesimen terbaik dapat dihargai hingga Rp2 miliar per kilogram.

Namun begitu, permintaan tinggi atas Yartsa Gunbu bukannya tanpa konsekuensi. Para ahli telah memperingatkan bahwa pemanenan secara besar-besaran dapat berakibat buruk pada lingkungan dan membuat parasit ini punah. (Oddity Central/AW)

 

Berikan Komentar:

Tags
Back to top button
Close