Lifestyle

Cara agar Anak tak hanya Jago Ngegame di Masa New Normal

Medan.top – Orangtua mana yang suka melihat anaknya hanya bermain game setiam hari. Tak perlu khawatir, karena ada cara agar anak tak hanya jago ngegame di masa new normal ini.

Ada sebuah Instagram Story yang menggelitik. Seorang anak laki-laki duduk bersila di kursi. Jari jemarinya tampak memegang sebuah ponsel. Sang ayah tergoda mengganggunya.

Ia colek bahu sang buah hati. Anaknya bergeming. Kali ini, dia usap rambut anaknya. Putranya malah menepiskan tangan ayahnya, tanpa melepas ponsel. Sang ayah mulai gemas. Kali ini, ia sengaja melambaikan tangan di depan mata sang anak. Reaksinya ternyata di luar dugaannya.

Buah hatinya mengomel lantaran merasa terganggu. Rupanya dia sedang asik main game. Untuk mengisi waktu selama belajar di rumah, anak kerap mengisinya dengan bermain game.

Cerdas menyikapinya

Tidak sedikit yang kecanduan. Kebiasaan ini sebaiknya tidak terbawa saat sudah memasuki era new normal. Orangtua sebagai penanggung jawab pendidikan anak di rumah punya peran penting dalam mencegahnya.

Di mata Diana Berlianti, peneliti di Gitta Family Consulting, kondisi seperti sekarang di mana orangtua dan anak sama-sama memegang ponsel perlu disikapi dengan cerdas. “Saat anak dan orangtua berinteraksi dengan gawai dapat menjadi pemicu ketiadaan komunikasi dalam keluarga,” terangnya.

Optimalkan pembentukan karakter positif anak

Menurutnya, orangtua sebaiknya tahu cara memilah jenis keterampilan kehidupan bagi anak agar anak tidak hanya jago ngegame. Pengetahuan tak wujud juga menjadi bekal orangtua dalam membimbing anak agar tidak kecanduan gim.

Pendidikan tak wujud bisa dilakukan dengan melakukan asesmen kebutuhan minat dan bakat anak yang disesuaikan dengan jenis pekerjaan di rumah.

Saat pandemi sekarang, kegiatan ekstrakurikuler anak bisa dimodifikasi untuk membantu orangtua melakukan pekerjaan rumah. Ambil contoh memasak dan berkebun. Selama pandemi, pembentukan karakter positif anak juga dapat dioptimalkan.

Ada baiknya anak dilatih mengapresiasi karya sendiri. Saat ia memasak, lalu gagal, dia dapat dibimbing agar tetap menghargai usahanya. Anggota keluarga yang lain juga diajak untuk bersama-sama menyantap karyanya tersebut.

Sebagai pendidik di rumah, orangtua sudah sepatutnya menjadi panutan bagi anak. Dari orangtua, anak dapat belajar berempati, tekun dan memiliki rasa kasih sayang kepada sesama.

Artikel ini telah terbit di Cokelat.co, untuk membaca artikel aslinya klik di sini

 

Berikan Komentar:

Tags

Berita Terkait:

Back to top button
Close