Kesehatan

Mompetition Bisa Merusak Kesehatan Mental Ibu, Waspada ya

Medan.top – Buat para ibu, waspadalah, karena mompetition ternyata dapat merusak kesehatan mental jika sering dilakukan. Topik tertentu bisa menjadi pemicunya.

Mompetition adalah kompetisi diam-diam di antara para ibu. Kondisi ini kadang tidak disadari dan terlontar begitu saja dari kaum ibu.

Dikutip dari Cokelat.co Menurut Terapis Kesehatan Mental Ibu di Massachusetts, Bryce Reddy, LMHC, saling berbagi kisah tentang diri sendiri, pasangan dan buah hati merupakan 3 pemicu persaingan kaum ibu.

Ada banyak contoh dari mompetition yang dapat merusak kesehatan mental para ibu. Ada banyak faktor yang menyertainya, beberapa di antaranya adalah:

  • Waktu luang ibu
  • Tingkat kelelahan diri
  • Kepiawaian mengurus dan mendisiplinkan buah hati
  • Membanggakan prestasi anak
  • Produktivitas ibu
  • Kebaikan pasangan.

Bicara soal waktu luang bisa berhubungan dengan banyaknya waktu luang yang dimiliki ibu sehingga ia bisa membereskan berbagai pekerjaan rumah serta mengurus anak dengan tenang.

Sebaliknya, ibu yang merasa punya sedikit waktu luang tetapi pandai membaginya untuk bekerja, mengurus rumah, pasangan dan anak juga dapat saja merasa bangga dengan kemampuannya mengelola waktu.

Produktivitas memicu persaingan

Tingkat kelelahan diri saat mengurus rumah, pasangan dan anak juga menjadi tantangan bagi ibu. Ia biasanya bangga jika tidak merasa lelah saat dapat mengurus semuanya dengan beres.

Saling membanggakan prestasi anak ketika mendapat nilai bagus atau menjadi juara di cabang olahraga tertentu juga berpotensi menimbulkan kompetisi.

Belum lagi terkait urusan mendisiplinkan anak. Memiliki anak dengan disiplin tinggi kerap membuat ibu bangga dan merasa berhasil mendidik sang buah hati.

Soal produktivitas merupakan faktor lain yang bisa membuat kaum ibu bersaing. Belum lagi terkait urusan membangga-banggakan kebaikan dan keromantisan pasangan. Hal ini bisa memicu kecemburuan dan kompetisi di antara para ibu.

Bahkan, bukan tidak mungkin ibu yang merasa suaminya tidak seromantis pasangan temannya akan merasa kesal. Kemudian berubah menjadi penuntut, meminta agar sang suami belajar romantis layaknya pasangan temannya.

Tidak dapat dimungkiri, banyak faktor pemicu mompetition. Selama persaingan masih sehat, sebenarnya aman-aman saja. Namun, ketika persaingan menjadi tidak sehat, bahkan berujung dengan saling merendahkan ibu lain, kondisi ini berbahaya karena berisiko menjatuhkan mental.

Ujung-ujungnya, kesehatan mental menjadi terganggu. Anda tentu tidak ingin hal ini terjadi, bukan? Kalau begitu, mulai sekarang setop membanggakan diri, pasangan dan buah hati. (Suzan)

Artikel ini telah terbit di Cokelat.co, untuk membaca artikel aslinya klik di sini

Berikan Komentar:

Tags

Berita Terkait: