Inspirasi

Sapardi Djoko Damono Wafat, ini Karya Sastra Peninggalannya

Medan.top – Sastrawan Tanah Air Sapardi Djoko Damono wafat di usia 80 tahun pada Minggu (19/7/2020) pagi di Rumah Sakit Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan.

Sapardi Djoko Damono wafat lantaran menurunnya fungsi organ tubuh setelah sempat lama dirawat di Rumah Sakit Eka Hospital.

Semasa hidupnya, pria yang dikenal dengan julukan SDD itu adalah sastrawan yang aktif berkarya. Dia telah berkarya sejak 1950 hingga akhir hayatnya.

Karya-karyanya antara lain berbentuk puisi, sajak, esai, dan cerita pendek. Berikut beberapa karya SDD yang popular.

1. DukaMu Abadi (1969)

DukaMu Abadi adalah kumpulan sajak karya SDD sejak 1967 hingga 1968. Terbagi menjadi 2 bagian, berdasarkan tahun.

Tahun 1967 yang berisi 24 puisi dan 1968 sebanyak 18 puisi. Di dalamnya ada sajak yang ia tujukan kepada dramawan, penyair, penulis skenario serta sutradara film Arifin C Noer.

Sajak itu berjudul Gerimis Jatuh. Selain itu juga terdapat sajak lain seperti Kepada Istriku, Di Stasion, Jarak dan Lanskap.

2. Hujan Bulan Juni (1994)

SDD amat piawai mengolah kata menjadi puisi. Padahal, puisi adalah karya sastra yang sulit dipahami. Bukan hanya itu, puisi karyanya juga mudah dipahami. Bahkan, oleh orang-orang yang sulit mengerti puisi.

Hujan Bulan Juni merupakan salah satu puisi karya SDD yang popular dan dikenal masyarakat luas, termasuk orang-orang yang tidak paham puisi.

Beberapa warganet kerap memasang syair Hujan Bulan Juni di media sosial untuk menyentuh hati pasangannya. Hujan Bulan Juni berisi semangat agar hati tabah ketika berhadapan dengan rasa yang tertahan.

3. Kumpulan Sajak Kolam (2009)

Kolam terdiri dari 3 buku. Buku pertama berisi 21 puisi berbentuk paragraf. Buku kedua terdiri atas Sonet 1 hingga Sonet 15. Buku ketiga berisi 15 puisi.

Beberapa judul sajak yang ada di dalamnya antara lain Pohon Belimbing, Tentang Tuhan, Sudah Lama Aku Belajar, dan Kenangan.

SDD adalah sastrawan yang konsisten menekuni dunia sastra. Lulus sekolah menengah atas, ia menimba ilmu di Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dia juga meraih gelar Doktor dalam Ilmu Sastra. Di tahun 1995, SDD dikukuhkan sebagai guru besar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Kini, Sapardi Djoko Damono telah tiada. Akan tetapi, karya-karyanya akan tetap abadi. (Suzan)

 

Berikan Komentar:

Tags

Berita Terkait:

Back to top button
Close