Inspirasi

Popo Danes kembali Abadikan Karyanya dalam Bali Inspired

Medan.top – Arsitek kenamaan Popo Danes kembali mengabadikan karya-karyanya melalui buku yang bertajuk Popo Danes Bali Inspired.

Popo adalah arsitek terkemuka asal Bali dengan ketertarikan tinggi pada budaya dan seni. Sejumlah hotel, resor, vila dan hunian menjadi terlihat artistik di tangannya.

Dalam merancang, pria yang juga menjadi konsuler kehormatan Republik Tunisia ini memang senantiasa mengedepankan konsep arsitektur tropis, budaya, pariwisata, dan ramah lingkungan.

Beberapa ciri karyanya ialah penggunaan bahan bekas layak pakai, modern tetapi tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional ornamen Bali serta memaksimalkan pemakaian bahan lokal. Di balik semua karyanya ada proses kreatif menarik dan ia tidak segan berbagi pengalamannya. Salah satunya, dalam buku terbarunya, Popo Danes Bali Inspired.

Dirilis dalam bahasa Inggris

Dirilis Rizzoli, buku karya Popo ini menampilkan sentuhan estetika kontemporernya di berbagai di hotel, butik, vila, resor dan hunian pribadi. Diana Darling, sang penulis buku ini, mengisahkan proses kreatif desain-desain bangunan karya suami Ni Wayan Melati itu.

Perempuan ini dikenal sebagai penulis andal yang paham budaya Bali. Di dalamnya ditampilkan pula foto-foto bangunan hasil bidikan fotografer profesional Rio Helmi. Buku Popo Danes Bali Inspired setebal 176 halaman itu dibuat dalam bahasa Inggris dan dipasarkan dengan harga Rp 800 ribu.

Keluwesan masyarakat Bali

Popo adalah arsitek bercita rasa tinggi dengan pemahaman budaya Bali yang kuat. Karya-karya arsitekturnya mencerminkan luwesnya masyarakat Bali dalam bersentuhan dan menerima modernisasi. Ia memiliki kemampuan menyelaraskan nilai estetika dan fungsinya.

Selalu ada nilai filosofis dalam setiap rancangannya. Selain meluncurkan buku, pria kelahiran Denpasar pada 1964 ini juga aktif menggelar pameran. Salah satunya, pameran retrospektif bertajuk New Regionalism in Bali Architecture yang menampilkan karya-karyanya sejak awal 1990-an hingga 2011.

Regionalism menggambarkan pola perancangan arsiteknya yang merefleksikan keluwesan masyarakat Bali dalam menerima modernisasi tanpa menghilangkan identitas ke-Bali-an mereka.

Membentuk karakter

Alumni Universitas Udayana tersebut telah banyak berkontribusi dalam pembentukan karakter masyarakat Bali ketika menyikapi kekinian. Ia telah berkarya di dunia arsitektur sejak usia 17 tahun. Karya-karyanya itu tidak hanya di Tanah Air, tetapi juga berbagai penjuru dunia.

Rancangannya kerap mendapat penghargaan seperti Nominasi The Aga Khan Award for Architecture 2004 dan pemenang pertama ASEAN Energy Award untuk Kategori Bangunan Tropis pada 2004 dan 2008. Ia juga membuat ruang publik kesenian dan kebudayaan di Denpasar, yaitu Danes Art Veranda. (Suzan)

 

Berikan Komentar:

Tags

Berita Terkait: