InspirasiWisata

Lima Sukarelawan Asing Terdampar di Pulau Terpencil Myanmar Akibat Lockdown

Medan.top – Lima sukarelawan asing terdampar di sebuah pulau di Myanmar karena negara tersebut melakukan isolasi wilayah terkait Covid-19.

Dikutip Medan.top dari Cokelat.co, Sabtu (16/5/2020), nasib 5 sukarelawan yang terdampar di pulau ini mirip dengan film Castaway yang dibintangi Tom Hanks. Bedanya, dalam film itu Hanks hanya seorang diri.

Kisah bermula saat para sukarelawan asal Inggris, Kanada, Hungaria, Prancis, dan Malaysia ini bertolak ke Pulau Kyun Pila, yang terletak di antara Myanmar dan Thailand.

Rombongan ini tiba di pulau terpencil itu pada 19 Maret lalu guna bekerja selama 1 bulan ke depan untuk membantu melindungi terumbu karang. Hingga kemudian wabah virus corona menyerang.

Salah seorang sukarelawan, Natalie Poole, asal Kota Devon, Inggris, menuturkan kisahnya kepada Mirror. Menurutnya, kapal satu-satunya yang sedianya hendak menjemput mereka kembali tak dapat berlayar karena Myanmar dan Thailand memberlakukan lockdown.

Dengan demikian, Natalie bersama keempat rekannya terpaksa bertahan hidup di pulau tersebut selama dua bulan dengan sumberdaya yang amat terbatas.

Wanita berusia 35 tahun itu menuturkan kepada Mirror, bahwa mereka terpaksa memanfaatkan segala cara agar dapat bertahan, salah satunya adalah dengan mengumpulkan sampah plastik dan bambu untuk membangun tenda.

Terinspirasi dari petualangan Robinson Crusoe, kelima sukarelawan kelompok Ocean Quest Global itu menggali sumur, membuat tempat api unggun, dan tempat untuk mencuci dengan alat seadanya.

Beruntung, ada sebuah vila terdekat yang dapat ditempuh selama 15 menit dengan berlayar. Di sana mereka dapat menggunakan air bersih, kabin portabel, serta wi-fi.

Natalie Poole (depan) bersama 4 rekannya yang terdampar di pulau terpencil di Myanmar. (Mirror)

Berjuang untuk mendapatkan makanan

Sebagai makanan, 5 sukarelawan yang terdampar di Pulau Kyun Pila ini bertahan dengan mengonsumsi ubi jalar, nangka, serta sejumlah sayuran yang ada di hutan.

Mereka pernah beruntung mendapat kiriman dari sejumlah perahu yang melintas dan membawa makanan seperti nasi dan pasta. Namun, makanan itu harus dihemat. Karena mereka tak tahu kapan perahu-perahu itu akan kembali melintas.

Kelima orang yang terdiri dari tiga pria dan dua wanita itu mengaku seringkali kelaparan jika tak menemukan makanan di hutan. “Kami harus sadar sebanyak apa kami harus makan. Kami hanya mengonsumsi makanan dasar dan harus menghematnya agar mampu bertahan,” ujar Natalie, yang merupakan pelatih selam scuba itu.

Wanita yang juga bekerja sebagai guru musim panas itu mengatakan mereka sejatinya akan dijemput pada 5 Mei lalu, tapi gagal karena Thailand memperpanjang lockdown.

Ia sangat berharap ada kapal lain yang dapat menjemput mereka pada akhir bulan ini. “Hal tersulit adalah tidak mengetahui berapa lama kami harus berada di sini,” keluhnya. (Mirror/AW)

Berita ini telah terbit di Cokelat.co, untuk membaca artikel aslinya klik di sini

Berikan Komentar:

Tags

Berita Terkait:

Back to top button
Close