Daerah

Kapolda Sumut : Aktor Kerusuhan di Madina Minta Jatah 30% Dana Desa

Medan.top – Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut), berhasil mengungkap pemicu aksi unjuk rasa berujung rusuh di Panyabungan, Madina, Senin (29/6/2020). Kerusuhan itu dilakukan sebagian warga Desa Mompang Julu, Kecamatan Panyabungan Utara, Kabupaten Mandailing Natal (Madina).

Kapolda Sumut, Irjen Pol Martuani Sormin, mengatakan, kerusuhan tersebut dipicu ancaman seseorang yang disebut dalang kerusuhan tersebut.

“Modusnya untuk mendapatkan keuntungan, di mana aktor mendapat 30% dari dana desa. Jatahnya, kalau kades tidak memenuhi 30% itu, dia (aktor) akan (melakukan) unjuk rasa,” ujar Martuani Sormin, Rabu (8/7/2020).

Di sisi lain kata Martuani, yang dilakukan Kepala Desa Mompang Julu, Hendri Hasibuan, sudah tepat. kata dia, Hendri bertindak benar dengan melakukan musyawarah kepada masyarakat.

“Dari Rp600 ribu itu, mereka setuju dibagikan Rp200 ribu. Sehingga warga yang layak menerima bantuan sekitar Rp300 ribu per kepala keluarga (KK) mendapatkan semuanya,” ujar Martuani.

Irjen Pol Martuani Sorim juga mengimbau kepada Kepala Desa se Sumut bila mendapat kasus serupa di wilayahnya untuk segera melaporkan kepada pihak kepolisian setempat.

“Saya mengimbau kepada semua Kepala Desa. Apabila ada seperti ini, laporkan ke Polda atau Polres. Pasti akan kami tindak,” ujar Martuani.

Polda Sumut Tetapkan 20 Tersangka Aksi Demo Berujung Rusuh di Madina

Hingga Rabu (8/7/2020), Polda Sumut menetapkan 20 orang sebagai tersangka dalam aksi unjuk rasa berbuntut kerusuhan di Desa Mompang Julu, Kecamatan Panyabungan Utara, Kabupaten Madina beberapa waktu lalu.

Para tersangka masing-masing berinisial A alias Awal (25) mahasiswa, TA (22) mahasiswa/ibu rumah tangga. A alias Suchdi (37), MPN (25), MAH (20) mahasiswa, R Alias Amat (20), ERN (40), AS (20), AN (20), EM Alias Rizal (29) dan MAN Als Lobe (37).

Kemudian, AHL Alias Hakim (53), MHL (18), AN (19) mahasiswa, KAN alias Aziz (18), MFH Alias Farhan (22) mahasiswa. M (25) mahasiswa, MAL Alias Ipin Alias Bandit (42) IA (16) pelajar, dan RN alias Amak (17) pelajar.

Dari 20 tersangka, sebanyak 18 orang proses penanganan dibawa ke Medan, sedangkan dua lainnya tetap di Madina karena berstatus sebagai pelajar. Namun, saat ini pihak kepolisian masih memburu satu orang lagi berinisial RS (DPO) yang disinyalir sebagai aktor intelektual kerusuhan.

Martuani mengatakan, peran ke 20 tersangka yang diamankan ini beragam. Mulai dari provokator dan penghasut massa, pelempar batu ke polisi, hingga melakukan pembakaran terhadap kendaraan dan memblokade Jalan ANtar Lintas Sumatera.

Sebelum kerusuhan terjadi, massa yang menyebutkan diri sebagai perkumpulan mahasiswa mompang menolak Kepala Desa Mompang Julu. Massa, melakukan unjuk rasa agar kepala desa mereka mundur dari jabatannya karena pembagian BLT dianggap tidak sesuai.

“Namun saat berlangsung aksi diawali dengan membakar ban. Karena massa sudah tidak terkendali, dilanjutkan dengan melempari polisi, sehingga terjadilah pembakaran 2 unit mobil dan 1 unit sepeda motor,” ungkap Martuani.

“edangkan terhadap para tersangka, tambah dia, masing-masing akan dijerat dengan pasal yang berbeda sesuai dengan bukti yang ada dan peran masing-masing.

Reporter : Ial

Berikan Komentar:

Tags

Berita Terkait:

Back to top button
Close